Aku, ingin ditemani.

Pada beberapa kesempatan dalam hidup, kadang kalanya ada suatu masa di mana kita merasa sangat amat ingin menyendiri, meninggalkan bisingnya kota yang tak pernah mati, dan tak berinteraksi dengan banyak orang di sekeliling.
Namun, jika sudah terlanjur merasa kosong, masih bolehkah mendamba hadirnya kembali hiruk-pikuk yang sempat diredam tadi? Mendamba secercah sapaan pagi di tepi jalan yang sedang dilalui, atau sekadar mendamba pesan singkat dari orang-orang terkasih yang mungkin hanya menanyakan apakah kita masih tidak bisa meminum kopi.

Aku, ingin ditemani kali ini. Bertukar tawa sambil kuceritakan bagaimana upayaku untuk bisa meminum segelas kopi di suntuknya jam kerja, agar rasa kantuk segera mereda. Juga bertukar cerita, tentang bagaimana setiap detak berpacu mengejar waktu yang sangat cepat berlalu.

Aku, ingin ditemani kali ini. Membayangkan ditemani duduk bersila di atas rumput taman, tanpa kata, memperhatikan bagaimana setiap insan melakukan hal yang berbeda di waktu yang sama.

Aku, ingin ditemani kali ini. Sebagaimana indahnya matahari terbenam yang sangat sayang dilewatkan untuk dipuja seorang diri, walaupun aku tak terlalu menyukai itu sedalam dulu.

Aku, ingin ditemani kali ini. Sekali saja, namun menetap lama, selama putaran bumi yang terus berotasi pada poros yang seharusnya, pada letak astronomis yang sama, walau kadang suhu berubah-ubah, tak apa. Untuk kali ini saja, aku, ingin ditemani.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Sunset is beautiful, isn't it?"

Aliran sungai yang sangat indah.

Teruntuk Puan