"Sunset is beautiful, isn't it?"
Lantunan lagu Nadin menemaniku saat ini. Mengalun indah, menciptakan suasana hangat nan sejuk, menemaniku berbenah kamar setelah sekian lama aku tak punya waktu untuk melakukannya.
Membuka sprei, menggantinya dengan yang baru, menyusun rak buku yang sudah sangat amat tak tertata, dan juga membereskan laci - laci meja belajar ku.
Terlihat di dalam laci sana ada beberapa barang yang sudah tak berguna, dan aku memutuskan untuk membuangnya. Namun, fokus ku tiba - tiba beralih pada amplop coklat yang ketika ku buka, berisi beberapa polaroid.
Lantunan suara Nadin berubah menjadi sendu. Ku lihat satu persatu potret yang ada pada polaroid itu.
Foto itu seperti bergerak. Aku seakan dibawa masuk kembali, melihat kilas balik moment - moment yang ada pada foto tersebut. Aku bahkan bisa mendengar suara tawa mu sekarang, hebat bukan?
Dan juga, aku bisa mendengar kalimat terakhir yang kamu ucapkan di hari itu.
"Aku yakin, aku mau dia, kamu harus membantuku mengejar cintaku, oke!", Kata mu dengan senyum merekah yang sangat indah. Seharusnya aku senang melihat jenis senyum mu yang satu itu. Namun, Saat aku tersadar bahwa bukan akulah alasan dari senyum itu muncul, saat itu, detik itu juga, aku sudah memutuskan untuk melepasmu. "Sunset is beautiful, isn't it?" Kataku, di dalam hati.
Semua orang juga tau, tidak akan pernah ada orang yang bisa melihat orang yang mereka cintai mencintai orang lain.
Aku tak cukup berani untuk memberitahu mu tentang perasaanku yang sebenarnya, tak. pernah. cukup. berani.
Menjalin persahabatan memang lah sulit, jika kamu melibatkan perasaan di dalamnya.
Kurapikan polaroid itu, ku masukkan kembali ke dalam laci. Aku menutup laci tadi, tanpa menguncinya, pertanda bahwa aku sudah berdamai dengan keadaan.
Mungkin, pada awalnya, aku merasa seperti orang yang paling tersakiti. Namun, dengan seiring berjalannya waktu, kusadari, bahwa perasaan seseorang tidak bisa aku kendalikan, jadi, ku alihkan fokusku pada hal yang bisa ku kendalikan. Benar, perasaan ku.
Malam itu, kegiatan berbenah kamar tak ku tuntaskan. Aku memilih untuk kembali menyapa kasur, dan berusaha keras menutup mata agar tertidur, karena itulah satu satunya cara yang paling ampuh ketika aku ingin melupakan hal yang tak ingin aku kenang.
'Sunset is beautiful isn't it?.'
I want to shout that line so loud, but i can't. It's because all about our memories. I just, can't do that.
Komentar
Posting Komentar