Alter ego.
Di ruangan 3x4m ini aku terbangun. Menyadari diri bahwa harus memulai semuanya lagi. Bangun, membersihkan diri, dan berangkat bekerja. Kebanyakan orang sih menyebut kaum kami dengan sebutan 'Sandwitch Generation'.
Selama diperjalanan, nampak banyak sekali orang berlalu - lalang, sibuk untuk memulai aktifitas mereka pagi ini. Contohnya, anak kecil di seberang jalan sana. Aku selalu bertemu dirinya di tempat yang sama, di waktu yang sama, atau bahkan pada jarak yang sama pula. Entahlah, semua kegiatan di kota rasanya sudah mulai aku kenali semenjak 2 tahun terakhir aku menginjakkan kaki ku di kota ini.
Dan lagi - lagi, aku bertemu wanita itu. Aku bosan bertemu dengannya. Semua sifat yang ada pada dirinya berbanding terbalik dengan sikap yang ku punya.
Dia pandai berbicara, sangat mudah baginya untuk membaur dengan orang asing dan menjadi begitu dekat dengan mereka bahkan hanya dalam hitungan menit.
Dengan matanya yang berbinar dan senyum cerah yang selalu tercetak indah di bibirnya itu sangat amat berhasil membius orang - orang.
Dia bekerja di salah satu tempat tak jauh dari kota. Pekerjaannya memang memerlukan skill pandai berbicara untuk menarik pelanggan, itulah kenapa dia sangat mudah untuk berbicara dengan orang asing, tidak dengan ku. Aku tidak pandai bercakap, cenderung pendiam. Aku bahkan lebih suka menghabiskan hari - hari ku hanya dengan berdiam diri di kamar dengan buku - buku, dan sekaleng coca cola.
Kami sangat amat berbeda. Dan jelas, dia, perempuan itu, lebih mudah untuk mendapatkan pundi - pundi rupiah dari pada diriku.
Aku sudah sampai. Tujuan ku adalah toko emas di seberang jalan utama, perempatan besar di tengah kota. Aku sudah mulai bekerja di sana mungkin sekitar 2 tahun setelah aku memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman ku.
Terlihat rekan kerja ku, hanya satu orang yang baru datang. Ku sapa dia seperti biasanya. Sebelum membantu ia membersihkan toko, langkah kaki ku selalu membawaku ke toilet, dan ini hampir terjadi setiap hari. Entahlah, mungkin sudah menjadi kebiasaan bagiku.
Aku menginjakkan kaki dengan lapisan sepatu Converse yang lusuh ini ke dalam toilet. Di sana, aku bertemu perempuan tadi, perempuan yang kutemui di jalan saat aku hendak pergi ke toko.
Ku sapa dia dengan tatapan tulus, lalu aku berkata, "tak apa, kamu akan selalu baik - baik saja. Berjanjilah untuk bertahan lebih lama. Kita pasti bisa melewati semuanya".
Di sana, di balik kaca besar itu, ia, sosok perempuan itu mulai meneteskan air mata, dan aku menyekat air mataku.
-ib : boy william on one podcast (idk im forget about the podcast(?))
Komentar
Posting Komentar